Sabtu, 09 Juni 2012

RISAU


Aku kehilangan masa mudaku
Waktuku seperti direnggut takdir yang kejam
Masa dimana seharusnya aku mencari diriku
Kini harus ku gunakan untuk melawan kerasnya hidup
Bergelut dengan kekerasan kehidupan
Yang bisa saja menelanku kapan pun

                Apa arti hidup dan kehidupan
                Kebahagiaan hanyalah bayangan semu
                Yang tak mungkin ku rengkuh
    Meski ku berjuang sekuat tenaga
                Aku mulai lelah karena berjalan seorang diri
                Hilang sudah semua mimpi indah yang ku bangun dulu
                Aku tak mampu melangkah lagi

Bintang-bintang pun seperti membiarkan aku jatuh
Tak ada pertolongan untuk manusia sepertiku
Aku menyesal mengapa ini jalanku
Kenapa tak sama dengan mereka
Aku ingin kehidupanku yang dulu
Tapi itu tak mungkin
Aku tak mampu TUHAN 

Jumat, 20 April 2012

LELAH


Angin dingin merasuk dalam rusuk-rusuk tubuh ini
Mematahkan angan akan kehangatan dunia fana
Mengapa tanah ini seakan mengaras bagai bebatuan di puncak itu
Apakah impian akan rumah yang hangat dengan seiris roti hanya mimpi di kala terjaga
Tak ada kebahagiaan dalam hidup melainkan air mata
Tak akan ada kepuasan melainkan dalam kematian
Dan tak pula ada kematian dalam dalam setitik harapan

Mungkin takdir tak pernah kejam
Tetapi dunia memberikan sejuta alasan akan kesengsaraan
Bertahan dan berperang melawan waktu yang tak tahu kapan akhirnya
Mimpi hanyalah lentera kecil dalam gulita yang merajai mayapada
Angan tentang tawa itu sirna bersama senja yang menelan siang
Menyisakan air mata di pelupuk malam

Ingin rasanya berhenti dan menyerah mengejar mimpi yang menjauh perlahan
Tetapi langkah ini terlanjur jauh meninggalkan pijakan di ujung kehidupan itu
Pagar yang menjulang itu menghadang menjadi rintangan yang kian nyata
Kerikil-kerikil tajam itu mengiringi setiap langkah bersama derita
Membuat jalan itu memerah akan darah perjuangan
Aku mulai lelah karenanya

Rabu, 28 Maret 2012

Indonesiaku di Akhir Zaman


Pekik para remaja itu menggema di angkasa
Teriakkan satu hasrat jiwa dan raga
Indonesia jaya kini bergejolak dalam derita rakyatnya
Pemimpin yang tak sadar akan rasa dan karsa yang di pimpinnya
Menjadi sosok yang siap mencekik urat leher sang jelata

Bangsa ini tidaklah mati dalam kemiskinan
Tetapi tak sadar dan mati suri dalam lumbung padi
Tanah surga kebanggaan leluhur Indonesia tamatlah sudah
Bersama si miskin yang tengah  menggali liang kuburnya sendiri
Siapa yang peduli
Tak juga tangan-tangan rakyat di atas sana

Mereka terdiam tak berbuat apa-apa
Lantas untuk apa mereka dijuluki “Wakil Rakyat”
Yang digaji dan hidup dari uang rakyat juga si miskin
Bila untuk sekedar melihat bangsa ini mati perlahan
Jika hanya untuk menyaksikan si miskin kelaparan
Membusuk di kolong jembatan yang hina itu
Sedang mereka terlelap tidur
Dalam ranjang istana megah nan nyaman

Cita-cita bangsa yang besar
Hanyalah dongeng pengantar tidur belaka
Tak ada yang sesuai seperti harapan 67 tahun silam
Indonesia kini di ambang kehancuran
Pemerintah kini menjadi musuh yang diperangi rakyatnya
Tanpa ada yang menyadari
Bangsaku kini akan hilang dalam kemunafikan

Pahlawan-pahlawan pejuang kemerdekaan
Mungkin tengah berperang di alam baka
Menyaksikan tanah air yang ia bela segenap jiwa
Perlahan  tenggelam dalam lautan zaman yang edan

Remaja-remaja itu
Memberontak pada ketidakpedulian
Tapi tidak pula memberi solusi tajam
Yang akan menjadi senjata dalam peperangan melawan zaman

Oleh Beti Kurniawati
Islamic University of Malang

Sabtu, 17 Maret 2012

SANDIWARA HIDUP

Kadang hidup memang tak seharum mawar di taman
Tapi ia tetap setegar karang di lautan
Meski air bah datang menghadang tetap kokoh dan tak bergeming
Tetap setia menemani lautan yang selalu menggelora
Tak pernah letih dan tak merasa bosan

Harapan baru muncul bersama hari baru dalam hidup ini
Setiap hari bagai sandiwara yang penuh klimaks
Dengan Tuhan sebagai penulis naskah kehidupan yang adil
Bak seorang aktor terkenal yang tengah menjalani skenario  
Hidup pun terasa sangat menegangkan seperti layaknya drama
Akhir cerita kehidupan ini adalah maut

Kematian adalah milik semua makhluk yang bernyawa
Rumah paling indah hanyalah pusara tua
Dengan taburan bunga-bunga mewangi
Seperti wangi ujung surga tempat kembali mereka yang shaleh
Bersama semua keindahan yang di sediakan Tuhan
Inilah happy ending drama kehidupan Tuhan
Dan neraka adalah sad ending dalam sandiwara kehidupan ini
Tuhan adil dan bijaksana pada setiap makhluknya. . . 

Sabtu, 10 Maret 2012

jeritan hati

langit malam ini begitu muram
terasa menyesakkan dada yang gundah
bintang di angkasa menari-nari dalam rinai hujan malam ini
apa yang disembunyikan rembulan pada bumi
yang perlahan tenggelam dalam lautan kenistaan
bahkan burung-burung itu pun tau
hanya diri ini sendiri dalam gelap
tak tau apa-apa

jeritan ini memanggil dirinya kembali
tapi apa daya
semua berlalu begitu cepat
laksana petir menyambar pepohonan kokoh itu
tangis ini seolah tiada arti dan tak merubah apa pun
takdir ini memang begini jalannya
semua terjadi dan meninggalkan duka yang begitu dalam
jerit hati ini memanggilnya untuk kembali
tapi tak bisa

jeritan ini meninggalkan duka di palung hati
andai kalian mengerti
ini bukan soal cinta bukan pula harta
inilah kasih sayang tiada tara
yang tak akan kalian mengerti dan tak kan pernah
inilah kisah pilu dalam tawa dunia fana
jeritan ini semakin akan membunuh jiwa dalam duka